Visi Pramudia

Archive for the ‘Ilmu’ Category

Absolutely amazing!

Beauty of Mathematics !!!!!!!

1 x 8 + 1 = 9
12 x 8 + 2 = 98
123 x 8 + 3 = 987
1234 x 8 + 4 = 9876
12345 x 8 + 5 = 98765
123456 x 8 + 6 = 987654
1234567 x 8 + 7 = 9876543
12345678 x 8 + 8 = 98765432
123456789 x 8 + 9 = 987654321

1 x 9 + 2 = 11
12 x 9 + 3 = 111
123 x 9 + 4 = 1111
1234 x 9 + 5 = 11111
12345 x 9 + 6 = 111111
123456 x 9 + 7 = 1111111
1234567 x 9 + 8 = 11111111
12345678 x 9 + 9 = 111111111
123456789 x 9 +10= 1111111111

9 x 9 + 7 = 88
98 x 9 + 6 = 888
987 x 9 + 5 = 8888
9876 x 9 + 4 = 88888
98765 x 9 + 3 = 888888
987654 x 9 + 2 = 8888888
9876543 x 9 + 1 = 88888888
98765432 x 9 + 0 = 888888888

Brilliant, isn’t it?

And look at this symmetry:

1 x 1 = 1
11 x 11 = 121
111 x 111 = 12321
1111 x 1111 = 1234321
11111 x 11111 = 123454321
111111 x 111111 = 12345654321
1111111 x 1111111 = 1234567654321
11111111 x 11111111 = 123456787654321
111111111 x 111111111 = 12345678987654321

Source: milis EWS

Iklan
Tahun 2005, Stephen R. Covey menambah karakter ke delapan sebagai dimensi baru dalam mewujudkan pemahaman mengenai pribadi yang utuh. Karakter kedelapan memberi pola pikir dan perangkat keahlian untuk secara terus menerus menggali potensi yang ada di dalam diri manusia melalui semua peran dalam 4 Peran Kepemimpinan :
Pertama, Panutan atau menyajikan keteladanan (individu, tim). Menjadi panutan mengilhami timbulnya kepercayaan tanpa memintanya. Jika orang hidup dengan prinsip-prinsip yang diwujudkan dalam karakter ke-8, kepercayaan, pengikat kehidupan ini, akan tumbuh dengan subur. Kepercayaan akan muncul kalau kita memang layak dipercaya. Secara singkat, mejadi panutan menghasilkan kewibawaan moral pribadi.
Kedua, Perintis. Merintis jalan menciptakan keteraturan tanpa perlu memaksakannya. Hal ini berarti bahwa jika orang mengaitkan identitas mereka dan terlibat dalam pembuata keputusan-keputusan strategis, khususnya mengenai nilai-nilai yang dipegang serta tujuan-tujuan prioritas tertinggi, mereka akan mengalami keterkaitan emosional. Manajemen dan motivasi merupakan urusan di dalam diri. Orang tidak perlu lagi diatur-atur dan dimotivasi dari luar. Merintis jalan menghasilkan kewibawaan moral visioner.
Ketiga, Penyelaras. Menyelaraskan struktur, sistem, dan proses merupakan perwujudan dari upaya untuk memupuk organisasi dan semangat kepercayaan, visi, dan pemberdayaan. Menyeleraskan menghasilkan kewibawaan moral yang dilembagakan.
Keempat, Pemberdaya. Memberdayakan adalah buah dari ketiga peran yang lain – menjadi panutan, merintis jalan, dan menyelaraskan. Peran ini membebaskan potensi manusia tanpa memerlukan motivasi eksternal. Memberdayakan akan menghasilkan kewibawaan moral budaya.

David J. Cichelli is Senior Vice President of The Alexander Group, Inc.®, the well recognized leader in sales effectiveness consulting. As the Practice Manager in Sales Compensation Design and Automation, David provides thought-leadership and best-practice solutions for application of winning sales compensation solutions. He is a frequent speaker at national conferences, industry groups, and corporate meetings.

He is the author of WorldatWork’s (association of compensation professionals) sales compensation design seminar. He teaches sales effectiveness for Columbia University’s Sales Management Program. With over 25 years of consulting experience, David’s clients include leading companies from among most major industries including financial services, hi-tech, software, telecom, wholesale, consumer goods, healthcare, and many others. His partial clients include American Express, AT&T, FedEx and Starbucks. David is the author of numerous sales management related articles and the Book, “Compensating the Sales Force’.

Herewith, I attached the resume of the Sales Force Effectiveness Management, when I involved in his training.

Effective Sales Force Management can be defined into 8 steps as followed:

1. Sales Segments & Objectives
2. Coverage Model
3. Sales Process
4. Job Design & Organization Structure
5. Resource Deployment
6. Sales Talent & Supervision
7. Performance Metrics
8. Quotas & Sales Compensation

To get detail of explanation, please download this file: Sales Force Effectiveness Management Presentation

Have a pleasent reading.

 

Buku One to One B2B: Customer Development Strategies for Business-to-Business World ditulis oleh Don Peppers & Martha Rogers. Ph.D., merupakan buku yang bagus untuk menjadi pedoman bagi perusahaan yang fokus untuk pasar enterprise/ corporate customer. Memang memerlukan penanganan yang berbeda untuk mensiasati bisnis antara consumer market (B2C) dengan enterprise market (B2B) atau yang biasa disebut dengan High End Market. Buku Ono to One B2B ini menjelaskan secara komprehensif bagaimana menjalankan customer relationship untuk B2B dengan teknik yang dinamakan One to One relationship. Tujuannya adalah untuk mencapai longer term relationship antara perusahaan dengan customernya.

 

Untuk menjalankannya dibutuhkan kerangka pikir yang disebut dengan IDIC model, yaitu:

      Identify your customer

      Differentiate your customers, by value and needs

      Interact with your customers

      Customize your customers.

 

Penjelasan tentang IDIC model ini, pernah saya tuliskan pada artikel saya mengenai Customer Relationship Strategy on Enterprise Market.

 

Buku ini juga menjelaskan penerapan account management di perusahaan-perusahaan world class dengan komprehensif, meliputi case study di:

      Dell

      Bentley System

      Convergys

      Novartis CP

 

Saya ringkas summarynya dalam bentuk power point namun pdf file.

 

Presentasinya dapat di dowload di sini: Presentasi One to One B2B

 

Kemajuan ICT secara kontinu terus berkembang di dunia Higher Education, menciptakan pengalaman “anytime/ anywhere”. Wireless Network dan Mobile Communication dipasangkan dengan perangkat personal computer (PC/ laptop), menghadirkan pengalaman baru bagi mahasiswa untuk mengakses informasi kampus, dan berkomunikasi baik antar student maupun dengan pengajar. Dengan kemajuan teknologi baik di bidang Wireless Network maupun Mobile Communication, menjadikan 2 remarkable area Future Learning, yaitu: Mobile Learning (M-Learning) dan Wireless Learning (W-Learning). Dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, boundary perbedaan antara M-Learning dan W-Learning akan semakin sulit untuk dibedakan (age of convergence).

Untuk melihat perbedaan yang jelas antara M-Learning dan W-Learning maka dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


Source: Wentzel, Petra, Using Mobile Technology to Enhance Students’ Educational Experiences, ECAR Case Study, 2005

Implementasi M-Learning

Sejak tahun 2003, Coastline Community College (CCC) di Amerika telah menyediakan pengajaran lengkap melalui handheald Pocket PC devices. M-Learning ini digunakan bagi pelajar-pelajar militer di Amerika (http://military.coastline.edu/pocket_ed.htm).

Beberapa universitas di Amerika, memberikan studentsnya iPods yang telah diisi oleh kampus form registrasi, kebijakan kampus, peta, organisasi kampus, jadwal kelas, dan informasi perpustakaan. Mereka menggunakan teknologi MP3 dan Mpeg4 untuk petunjuk informasi kuliah dan rekaman dosen (podcasting)

Organisasi Kampus dan komunitasnya menggunakan M-Learning. American College of Physicians menyediakan konten learning melalui PDA. (http://www.acponline.org/pda/).


Holistic E-Learning System

Holistic E-Learning System mengintegrasikan klasikal, mobile learning dan wireless learning:

Source: Gorgieva, Evgeniya, Angel Smirikarov, and Tsvetazor Georgiev, “A General Classification of Mobile Learning Systems”, International Conference on Computer Systems and Technologies – CompSysTech’ 2005

Secara Umum, advance E-Learning System dikategorikan sebagai berikut:

  • On-campus systems, dimana dapat diakses di dalam lingkungan kampus. Access bisa menggunakan wireless, dengan menggunakan laptop atau tablet PC (W-Learning)
  • Off-campus systems, dimana dapat diakses dari luar lingkungan kampus dengan akses menggunakan pocket size computers (PDA), cell phone atau smart phone, selama device tersebut memiliki kemampuan support wireless communication (GPRS, UMTS, CDMA). Juga memilliki kemampuan untuk mengirim/ menerima SMA yang berisi berita dan pesan penting lainnya dari kampus ke user/ students (M-Learning)

Wah… keren ya. Bagaimana dengan kampus-kampus di Indonesia? Apakah sudah ada yang mengaplikasikan Mobile Learning?

File Presentasi bisa didownload disini: Mobile Learning pdf

Untuk artikel sejenis mengenai Smart Campus, klik disini: Smart Campus

Nokia Siemens Networks saat ini sedang mengembangkan solusi Village Connection sebagai solusi komunikasi untuk daerah pedesaan. Saat ini, Nokia Siemen Networks Village Connection sedang diuji coba di India untuk menguji teknologi dan sistem bisnis yang dapat diimplementasikan.

Solusi Village Connection didesign untuk menyelenggarakan komunikasi ke pedesaan melalui teknologi yang murah (cost-efficient) sebagai tambahan dari jaringan GSM existing. Untuk itu, network dibangun tanpa mendirikan tower BTS, namun cukup dengan “mini” network, yaitu melalui perangkat PC sebagai server, batre UPS dan GSM access point. Skema bisnis dilakukan melalui metode franchising, dimana operator akan kerjasama dengan local/ village entrepreneur sebagai franchisee. Network mini disetup di pedesaan, sehingga untuk komunikasi internal di desa, tidak akan mempengaruhi trafik jaringan GSM existing. Dengan demikian, maka untuk panggilan internal dalam desa, dapat dilakukan skema flat pricing, yang merupakan pendapatan bagi local/ villager enterpreneur. Sedangkan untuk panggilan keluar pedesaan, maka akan diberlakukan pricing berdasarkan durasi. Local/ villager enterpreneur diharapkan dapat melakukan investasi untuk GSM Access Point dan sebuah PC untuk digunakan sebagai mini server.

Manfaat Village Connection

Beberapa manfaat dari Village Connection:

Bagi Operator :
· Mendapatkan market tele-komunikasi dari pedesaan
· Mendapatkan kasus bisnis yang profitable dari daerah pedesaan.
· Memperbesar customer base, dapat meningkatkan traffic tambahan.

Bagi Entrepreneur:
· Peluang untuk menjadi Bisnis Owner.
· Kontribusi kepada komunitas di pedesaan.

Bagi Masyarakat Desa:
· Connectivity ke luar pedesaan, bahkan ke dunia.
· Memiliki telepon sendiri di rumah.
· Meningkatkan kesejahteraan.

Lesson Learned

Village Connectivity merupakan solusi yang baik untuk program meningkatkan penetrasi Telekomunikasi di Indonesia, sebagai salah satu main industry driver untuk memajukan Indonesia (Lihat tulisan saya tentang “Menuju Indonesia Makmur“). Program Telepon/ Internet Masuk Desa dapat seiring dengan skema bisnis yang digunakan oleh Village Connection. Memang Village Connection mengambil GSM sebagai teknologinya, namun tidak menutup kemungkinan model bisnis ini dikembangkan dibawah platform lain, misalnya CDMA. Yang penting, bagaimana model bisnisnya bisa merangsang para pengusaha lokal di pedesaan (village entrepreneur) untuk bersama membangun bisnis ini. Model bisnis ini sebetulnya sudah berjalan di Bangladesh melalui program dari Grameen Phone.


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

RSS Orido

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 290.455 hits
Iklan