Visi Pramudia

Archive for the ‘Ilmu’ Category

 

Buku One to One B2B: Customer Development Strategies for Business-to-Business World ditulis oleh Don Peppers & Martha Rogers. Ph.D., merupakan buku yang bagus untuk menjadi pedoman bagi perusahaan yang fokus untuk pasar enterprise/ corporate customer. Memang memerlukan penanganan yang berbeda untuk mensiasati bisnis antara consumer market (B2C) dengan enterprise market (B2B) atau yang biasa disebut dengan High End Market. Buku Ono to One B2B ini menjelaskan secara komprehensif bagaimana menjalankan customer relationship untuk B2B dengan teknik yang dinamakan One to One relationship. Tujuannya adalah untuk mencapai longer term relationship antara perusahaan dengan customernya.

 

Untuk menjalankannya dibutuhkan kerangka pikir yang disebut dengan IDIC model, yaitu:

      Identify your customer

      Differentiate your customers, by value and needs

      Interact with your customers

      Customize your customers.

 

Penjelasan tentang IDIC model ini, pernah saya tuliskan pada artikel saya mengenai Customer Relationship Strategy on Enterprise Market.

 

Buku ini juga menjelaskan penerapan account management di perusahaan-perusahaan world class dengan komprehensif, meliputi case study di:

      Dell

      Bentley System

      Convergys

      Novartis CP

 

Saya ringkas summarynya dalam bentuk power point namun pdf file.

 

Presentasinya dapat di dowload di sini: Presentasi One to One B2B

 

Kemajuan ICT secara kontinu terus berkembang di dunia Higher Education, menciptakan pengalaman “anytime/ anywhere”. Wireless Network dan Mobile Communication dipasangkan dengan perangkat personal computer (PC/ laptop), menghadirkan pengalaman baru bagi mahasiswa untuk mengakses informasi kampus, dan berkomunikasi baik antar student maupun dengan pengajar. Dengan kemajuan teknologi baik di bidang Wireless Network maupun Mobile Communication, menjadikan 2 remarkable area Future Learning, yaitu: Mobile Learning (M-Learning) dan Wireless Learning (W-Learning). Dalam kurun waktu 10 tahun kedepan, boundary perbedaan antara M-Learning dan W-Learning akan semakin sulit untuk dibedakan (age of convergence).

Untuk melihat perbedaan yang jelas antara M-Learning dan W-Learning maka dapat dilihat pada tabel di bawah ini:


Source: Wentzel, Petra, Using Mobile Technology to Enhance Students’ Educational Experiences, ECAR Case Study, 2005

Implementasi M-Learning

Sejak tahun 2003, Coastline Community College (CCC) di Amerika telah menyediakan pengajaran lengkap melalui handheald Pocket PC devices. M-Learning ini digunakan bagi pelajar-pelajar militer di Amerika (http://military.coastline.edu/pocket_ed.htm).

Beberapa universitas di Amerika, memberikan studentsnya iPods yang telah diisi oleh kampus form registrasi, kebijakan kampus, peta, organisasi kampus, jadwal kelas, dan informasi perpustakaan. Mereka menggunakan teknologi MP3 dan Mpeg4 untuk petunjuk informasi kuliah dan rekaman dosen (podcasting)

Organisasi Kampus dan komunitasnya menggunakan M-Learning. American College of Physicians menyediakan konten learning melalui PDA. (http://www.acponline.org/pda/).


Holistic E-Learning System

Holistic E-Learning System mengintegrasikan klasikal, mobile learning dan wireless learning:

Source: Gorgieva, Evgeniya, Angel Smirikarov, and Tsvetazor Georgiev, “A General Classification of Mobile Learning Systems”, International Conference on Computer Systems and Technologies – CompSysTech’ 2005

Secara Umum, advance E-Learning System dikategorikan sebagai berikut:

  • On-campus systems, dimana dapat diakses di dalam lingkungan kampus. Access bisa menggunakan wireless, dengan menggunakan laptop atau tablet PC (W-Learning)
  • Off-campus systems, dimana dapat diakses dari luar lingkungan kampus dengan akses menggunakan pocket size computers (PDA), cell phone atau smart phone, selama device tersebut memiliki kemampuan support wireless communication (GPRS, UMTS, CDMA). Juga memilliki kemampuan untuk mengirim/ menerima SMA yang berisi berita dan pesan penting lainnya dari kampus ke user/ students (M-Learning)

Wah… keren ya. Bagaimana dengan kampus-kampus di Indonesia? Apakah sudah ada yang mengaplikasikan Mobile Learning?

File Presentasi bisa didownload disini: Mobile Learning pdf

Untuk artikel sejenis mengenai Smart Campus, klik disini: Smart Campus

Nokia Siemens Networks saat ini sedang mengembangkan solusi Village Connection sebagai solusi komunikasi untuk daerah pedesaan. Saat ini, Nokia Siemen Networks Village Connection sedang diuji coba di India untuk menguji teknologi dan sistem bisnis yang dapat diimplementasikan.

Solusi Village Connection didesign untuk menyelenggarakan komunikasi ke pedesaan melalui teknologi yang murah (cost-efficient) sebagai tambahan dari jaringan GSM existing. Untuk itu, network dibangun tanpa mendirikan tower BTS, namun cukup dengan “mini” network, yaitu melalui perangkat PC sebagai server, batre UPS dan GSM access point. Skema bisnis dilakukan melalui metode franchising, dimana operator akan kerjasama dengan local/ village entrepreneur sebagai franchisee. Network mini disetup di pedesaan, sehingga untuk komunikasi internal di desa, tidak akan mempengaruhi trafik jaringan GSM existing. Dengan demikian, maka untuk panggilan internal dalam desa, dapat dilakukan skema flat pricing, yang merupakan pendapatan bagi local/ villager enterpreneur. Sedangkan untuk panggilan keluar pedesaan, maka akan diberlakukan pricing berdasarkan durasi. Local/ villager enterpreneur diharapkan dapat melakukan investasi untuk GSM Access Point dan sebuah PC untuk digunakan sebagai mini server.

Manfaat Village Connection

Beberapa manfaat dari Village Connection:

Bagi Operator :
· Mendapatkan market tele-komunikasi dari pedesaan
· Mendapatkan kasus bisnis yang profitable dari daerah pedesaan.
· Memperbesar customer base, dapat meningkatkan traffic tambahan.

Bagi Entrepreneur:
· Peluang untuk menjadi Bisnis Owner.
· Kontribusi kepada komunitas di pedesaan.

Bagi Masyarakat Desa:
· Connectivity ke luar pedesaan, bahkan ke dunia.
· Memiliki telepon sendiri di rumah.
· Meningkatkan kesejahteraan.

Lesson Learned

Village Connectivity merupakan solusi yang baik untuk program meningkatkan penetrasi Telekomunikasi di Indonesia, sebagai salah satu main industry driver untuk memajukan Indonesia (Lihat tulisan saya tentang “Menuju Indonesia Makmur“). Program Telepon/ Internet Masuk Desa dapat seiring dengan skema bisnis yang digunakan oleh Village Connection. Memang Village Connection mengambil GSM sebagai teknologinya, namun tidak menutup kemungkinan model bisnis ini dikembangkan dibawah platform lain, misalnya CDMA. Yang penting, bagaimana model bisnisnya bisa merangsang para pengusaha lokal di pedesaan (village entrepreneur) untuk bersama membangun bisnis ini. Model bisnis ini sebetulnya sudah berjalan di Bangladesh melalui program dari Grameen Phone.

Motivation is what gets you started, Habit is what keeps you going”

Kata-kata tersebut saya ambil dari belakang kartu Fitness First… : motivasi adalah hal yang membuat kita memulai sesuatu, dan kebiasaan adalah apa yang membuat kita terus menerus melakukannya… Jadi, untuk mencapai kebiasaan yang baik, dibutuhkan motivasi yang baik… terus menerus sehingga menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan secara kelompok atau komunitas bisa dijadikan menjadi suatu budaya/ culture dari kelompok atau komunitas tersebut…

Rumusnya jadi seperti ini:

Motivation –> action –>habit–>culture

Untuk merubah motivasi menjadi action adalah kemauan. Untuk menjadikan action menjadi habit adalah continuous action (action yang berkesinambungan). Untuk menjadikan habit menjadi culture adalah mentransfer habit individu menjadi social habit.

Jadi semua berangkat dari Motivasi. Motivasi bisa kita peroleh dari mentor, guru, buku dan lainnya… tapi sebetulnya motivasi yang paling baik adalah dari pikiran kita sendiri dengan cara mengambil hikmah atas sesuatu dan membuat strategi mengatasinya untuk menjadi motivasi kita sendiri…

Bagaimana dengan habit? Untuk mencapai kemenangan pribadi maupun sosial, Stephen R. Cover menjelaskan 7 Habits of Highly Effective People dan ditambah dengan the 8th Habit pada buku barunya:

7 Habits:

  • Proactive
  • Start from the End
  • Put first thing first
  • Think win win
  • Effective Communication
  • Synergy
  • Sharpen the saw

The 8th Habit:

  • Panutan
  • Perintis
  • Penyelaras
  • Pemberdaya

Untuk lebih detail mengenail 7 habits dan the 8th habit, articlenya bisa didownload disini: https://visipramudia.files.wordpress.com/2008/04/7-habits-of-highly-effective-people-8th-habit.pdf

Dengan kebiasaan-kebiasaan positif tersebut, diharapkan terbentuk komunitas yang baik, sehingga membentuk budaya bangsa yang baik…

Buku Blue Ocean Strategy ini ditulis oleh W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, udah cukup lama sih… Cuma waktu pertama terbit, buku tersebut booming sekali. Wajar saja, karena Chan Kim menjelaskan strategi differensiasi dengan teknik penulisan yang enak dibaca, dan adanya tools Strategy Canvas yang memang cukup baik untuk memetakan bagaimana positioning kita terhadap market.

Jaman kompetisi yang semakin ketat ini, menjadikan perusahaan membutuhkan kreatifitas untuk keluar dari Red Ocean, menuju Blue Ocean, uncontested market. Intinya adalah bagaimana perusahaan menciptakan value innovation dengan mengkombinasikan trade off value dan cost.

Udah deh.. daripada cerita panjang-panjang… liat aja di presentasi yang udah pernah saya buat.

Silahkan download file presentasi ini: https://visipramudia.files.wordpress.com/2008/04/blue-ocean-strategy.pdf


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

RSS Orido

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 296.360 hits