Visi Pramudia

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Marhaban ya Ramadhan… Selamat menunaikan ibadah puasa bagi orang yang beriman…

Dalam bulan suci ramadhan ini, mari kita memperbanyak bacaan Al-Qur’an dan bacaan Islam lainnya, guna memperbanyak amalan dan ilmu bagi kita semua.

Pada posting kali ini, saya akan menampilkan IBNU SINA, seorang ilmuwan islam yang sangat termasyur di bidang kedokteran dan filosofi. Kebetulan hari ini, 1 Ramadhan, merupakan tanggal dimana mangkatnya Ibnu Sina, untuk menghadap Allah SWT. Tulisan tersebut saya ambil dari Kalender Takaful 2008. Selamat membaca…

—-

IBNU SINA (980-1037)

Hingga saat ini, karya-karyanya tetap menjadi rujukan penting dalam ilmu kedokteran modern.

Ibnu Sina juga dikenal dengan nama Avicenna. Beliau mendapat julukan bapak pengobatan modern. Beliau telah menulis sekitar 450 buku dalam berbagai bidang ilmu, terutama bidang kedokteran dan filosofi, diantaranya yang terkenal adalah The Canon of Medicine (Al-Qanun fi al-Tibb) dan The Book of Healing (Kitab al-Shifa). Ibnu Sina bernama lengkap Abu ‘Ali al-Husayn ibnu ‘Abdullah ibnu Sina. Lahir pada tahun 980 di Afsyahnah dekat Bukhara sekarang wilayah Uzbekistan. Beliau dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi serta daya ingat yang luar biasa. Tak heran jika beliau mampu menghafal Al-Qur’an pada usia kelima.

Beliau mulai belajar ilmu kedokteran pada usia 16 tahun, tidak hanya secara teori tetapi juga mencari metode sendiri dalam menyembuhkan penyakit. Beliau bahkan memperoleh predikat ahli medis (physician) pada usia 18 tahun. Ibnu Sina meninggal pada usia 58 tahun, tepatnya 1 Ramadhan 428 H di kota tercintanya, Hamadan, Iran. Di akhir hidupnya, beliau membagi-bagikan seluruh harta yang dimilikinya kepada orang-orang miskin. Ungkapannya, “Saya memilih hidup yang singkat tapi penuh manfaat, daripada hidup lama tapi sedikit memberikan manfaat.”

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yunus: 57)

The Canon of Medicine, salah satu karya fenomenal Ibnu Sina.

Al-Jazari (1136-1206) mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Al-Jazari adalah seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir di al-Jazira, yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur laut Syria, tepatnya antara sungai Tigris dan Efrat. Ibnu Ismail Ibnu al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang ini, diantaranya sistem combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.

Donald Routledge Hill dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga jaman modern ini, tidak satupun tulisan dari suatu kebudayaan yang dapat memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh al-Jazari. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, ”al-Jami Bain al-Ilm Wal-’Amal al Nafi Fi Sinat’at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices).

Pada tahun 1206, al-Jazari membuat Jam Gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot pada masa sekarang. Kini replika Jam Gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.

”Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Mahak Perkasa.” (QS Al Hadid: 25)

Replika Jam Gajah yang digerakkan oleh tenaga air, berbunyi setiap 30 menit.

(diambil dari: Kalender Takaful 1429H)

Lensa optik yang kita kenal sekarang, dibuat berdasarkan diagram lensa penemuan Ibnu al-Haitham pada abad ke 10. Ibu al-Haitham dikenal sebagai cendekiawan terkemuka dalam beragam disiplin ilmu pengetahuan, seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan dan filsafat. Salah satu hasil karyanya dalam bidang optik yang tetap menjadi acuan hingga saat ini, tertuang dalam Kitab al-Manazir atau Buku Optik. Beliau adalah orang pertama yang menerangkan dengan tepat tentang bagian-bagian mata dan memberi penjelasan secara rinci tentang proses penglihatan.

Ibnu al-Haitham juga ilmuwan pertama yang memperkenalkan prosedur pengembangan teori atau lebih dikenal dengan metode penelitian ilmiah modern.

Beliau menulis lebih dari 200 buku dalam berbagai bidang, namun hanya 96 karya ilmiahnya yang dikenal dan sisanya hilang. Dari jumlah ini, sebagian besar menerangkan tentang matematika, 23 buku tentang astronomi, 14 buku tentang optik dan beberapa buku dalam bidang lainnya.

Nama lengkap beliau Abu ‘Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham atau dikenal di dunia barat sebagai Alhazen atau Alhacen. Basrah adalah tanah kelahirannya, namun kecintaannya pada ilmu pengetahuan membawanya hijrah ke Mesir. Beliau mengungkapkan : “Saya semakin yakin bahwa tidak ada cara lain untuk mendapatkan hidayah dan mendekatkan diri pada Tuhan, kecuali dengan menuntut ilmu dan mencari kebenaran.”

Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat”. Maka apakah kamu tidak memikirkannya? (QS Al An’am: 50)

Kamera Obscura (dalam bahasa Latin berarti kamar gelap), pengembangan hasil penemuan Ibnu Al Haitham yang didasarkan atas prinsip menangkap pantulan cahaya dari sebuah benda.

(Sumber: Kalender Takaful 1429 H)

Dari catatan sejarah diperoleh bahwa sebenarnya wawasan nusantara telah mulai dirintis paling tidak sejak jaman kekuasaan Raja Mdang, Darmawangsa Tguh yang memerintah tahun 985-1006. Kerajaan Mdang adalah Kerajaan Mataram Hindu setelah pusat kerajaan dipindahkan dari Jawa Tengah ke lembah Kali Brantas, Jawa Timur oleh Pu Sindok, moyangnya wangsa Isyana. Darmawangsa Tguh bercita-cita menguasai Nusantara dimulai dengan menaklukkan Jawa, Bali dan kemudian kerajaan di pantai barat Kalimantan dan Maluku. Upaya terberatnya adalah menaklukkan kerajaan besar Sriwijaya. Maka pada tahun 1006 beliau menyerang Sriwijaya namun tidak berhasil dan tidak berapa lama mendapatkan serangan balik dari Sriwijaya yang bersekutu dengan kerajaan Wurawari yang diperkirakan kerajaan kecil di Jawa Tengah. Istana dikepung dan dibakar dan Darmawangsa tewas di dalamnya. Darmawangsa telah menunjuk penggantinya, Airlangga, beliau termasuk bangsawan yang selamat tetapi beliau masih kecil, baru 16 tahun, dan atas perlindungan Narottama beliau diungsikan di partapaan para resi di Wonogiri.

Setelah itu ada kekosongan kekuasaan dan daerah-daerah dikuasai oleh para panglima perang, hingga Airlangga naik tahta pada tahun 1019, dan mendirikan Kerajaan Kahuripan dengan pusat di Kediri. Pada mulanya Airlangga masih diliputi ketakutan terhadap Sriwijaya hingga membangun kerajaan secara diam2, dengan wilayah semula terbatas kira-kira seluas Kediri saja dan pelan-pelan meluas hingga seluruh Jawa Timur pada tahun 1030. Kemudian Sriwijaya pun mulai memberikan pengakuan. Sementara itu pada tahun 1025, Sriwijaya habis diserang oleh Rajendra Cola, Raja Cola, di India Selatan. Setelah serangan itu maka Raja Sriwijaya pada waktu itu melunak dan mengajak konsinyasi dengan Jawa bahwa kedua belah pihak mengakuai keunggulan masing-masing. Sriwijaya berkuasa atas wilayah Nusantara bagian barat dan Kahuripan berkuasa atas Nusantara bagian Timur. Bahkan Sriwijaya pun memberikan Airlangga seorang putri yang dijadikan istrinya.

Kertanegara Menghadapi Kubilai Khan dengan Persekutuan Suci Nusantara Dan Drama Pembentukan Majapahit

Setelah babad Kediri sejarahnya berakhir pada 1222 dan diganti oleh babad Singasari, raja terbesarnya adalah Kertanegara yang memerintah pada 1254-1292. Pada jaman Kertanegara inilah Kubilai Khan yang menguasai sebagian besar dunia mengirimkan utusan yang dipimpin Meng Chi meminta agar Kertanegara takluk di bawah maharaja Kubilai Khan namun Kertanegara menolak bahkan melukai muka utusan China itu.

Setelah Meng Chi terusir dari Singasari, Kertanegara telah memperhitungkan akan serangan pembalasan China maka beliau mengadakan persekutuan dengan kerajaan2 Nusantara Timur dan dengan Sriwijaya. Yang dinamakannya persekutuan suci. Pada tahun 1286 beliau mengirimkan Ekspedisi Pamalayu yaitu mengirimkan patung Amoghapala kepada Raja Sriwijaya sebagai lambang perdamaian dan ikatan persekutuan suci Nusantara untuk menghadapi serangan balik Kubilai Khan. Karena politik Kertanegara terlalu berorientasi ke luar maka ada rongrongan politik dari dalam dan meletuslah pemberontakan Jayakatwang yang menewaskan Kertanegara.

Kemudian seorang bangsawan Singasari, Raden Wijaya atas nasihat temannya, Bhupati Madura, Aria Wiraraja menyatakan tunduk pada Jayakatwang maka diberikanlah tanah perdikan di Tarik. Sesuai dugaan bahwa serangan balik Kubilai Khan datang pada tahun 1293, namun Raja Kertanegara yang dulu mempermalukan China telah gugur. Raden Wijaya mengajak serdadu China yang dipimpin Admiral Ji-Ko-Mu-Su untuk bersekutu menyerang raja dan saling setuju maka dengan mudah Jayakatwang dikalahkan.

Kemudian atas alasan perdamaian pasukan China dipecah-pecah menjadi pasukan kecil, dan tiba saatnya balik diserang oleh pasukan Raden Wijaya yang membuat pasukan China sebagian besar tewas dan sisanya lari tunggang-langgang kembali ke negerinya. Raden Wijaya kemudian bertahta dan berdirilah kerajaan Majapahit hingga mencapai jaman keemasan pada era raja Hayamwuruk dan Mapatih Gajah Mada dengan wilayah kurang lebih seluas wilayah Indonesia sekarang ditambah Semenanjung Malaka.

Maka wilayah Indonesia sebenarnya oleh nenek moyang kita telah dipersatukan baik oleh perdagangan maupun oleh politik. Dibutuhkan waktu 350 tahun untuk mencapai cita-cita agung Darmawangsa, yang tercapai untuk sementara waktu oleh Majapahit pada jaman kekuasaan Hayamwuruk dan butuh kira-kira satu milenium, seribu tahun kemudian untuk terbangunnya Republik Indonesia, dengan wilayah dari Sabang sampai Merauke. Kita percaya pidato politik Bung Karno dengan pernyataan yang sering diulang, “Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe, Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang besar”.

Catatan :

  • Pada jaman kuno milenium pertama masehi telah terjadi hubungan dagang antara Maluku, Kalimantan dengan Jawa dan Sumatra untuk dibawa ke China, India, Parsi, Arab dan terus ke Eropa jadi pada masa itu Nusantara telah aktif dalam perdagangan internasional
  • Ayah Airlangga adalah Udayana (Darmodhayana), seorang Raja Bali dan ibu Airlangga adalah Mahendratta (Cucu Pu Sindok)
  • Bung Karno, Ibu berdarah bangsawan Bali dan Ayah berdarah bangsawan Majapahit
  • Gajah Mada berasal dari Bali kalau menurut kitab klasik Bali, Usana Jawa tapi dalam Pararaton dan Negarakertagama asal-usul Gajah Mada tidak jelas

(dari seorang kawan: M Yusron, milis Sekar DPD-CO)

Ini dongeng bukan sembarang dongeng, tetapi dongeng yang ilmiah, ada bukti-bukti sejarahnya. Dan juga dongeng tentang romantika kejayaan masa lampau yang megah yang pernah dicapai nenek moyang kita di masa lalu yang jauh. Semoga dengan sejarah kebesaran nenek moyang kita ini, maka akan tersirat pada hati kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar. (sumbernya: South East Asia History, karangan DGE Hall).
  1. Seorang raja muda Khmer (Sekarang Kamboja) tanpa memperhitungkan akibatnya telah membual dengan menyatakan keinginannya menyantap kepala Maharaja Sriwijaya di piringnya. Bualan itu sampai pada telinga Maharaja, yang kemudian menanggapinya dengan melakukan serangan yang mengejutkan atas ibukota Khmer dan kemudian menawan Rajanya dan memenggal kepalanya. Sambil membawanya pulang beliau membalsemnya dan mengirimkan kembali dalam kuali sebagai peringatan kepada pengganti raja itu.
    Sebuah prasasti di Khmer pada masa belakangan menyebutkan bahwa Jayawarman II sebelum naik tahta telah mengunjungi Jawa. Jelasnya Jayawarman II adalah raja yang ditunjuk Sriwijaya sebagai pengganti raja yang dihabisi oleh Sriwijaya tersebut yang sebelumnya dibawa ke istana Syailendra untuk mengabdi dan dididik agar jangan mengulangi perbuatan raja yang dipenggal kepalanya tadi.
    Cerita ini terjadi pada tahun 851, jaman keemasan Sriwijaya saat Sriwijaya juga berkuasa atas Sumatra dan Jawa Tengah dengan bukti kemakmuran dan kemegahan yang tak terbantah yaitu telah membangun monumen paling indah, Borobudur. Cerita ini dituliskan oleh orang Arab bernama Abu Zaid Hasan, dari cerita pelayaran seorang pedagang bernama Sulayman.
  2. Pada tahun 671 seorang pendeta budha dari negeri China bernama I Tsing dalam perjalanannya ke India dia mampir ke Srivijaya untuk belajar tata bahasa sanskerta, betapa pentingnya Sriwijaya waktu itu. Dia mengatakan di Sriwijaya ada lebih dari seribu pendeta. Setelah tinggal selama 6 bulan di Sriwijaya dia bertolak ke Nalanda, India untuk belajar di Universitas Budha mempelajari Mahayana, selama 13 tahun di sana. Kemudian pada tahun 685 kembali ke Sriwijaya untuk menterjemahkan teks Budha ke dalam Bahasa China dan menyusun buku memoarnya yang makan waktu 4 tahun di Sriwijaya. Pada tahun 689 karena kebutuhan alat tulis dan pembantu maka I Tsing bertolak ke Kanton dan kembali ke Sriwijaya dengan 4 orang teman untuk merampungkan memoirnya yang akhirnya diselesikan pada 692 dan pada 695 ia kembali ke China.
  3. Pada tahun 1005 seorang raja Sriwijaya membangun Vihara di Negapatam, pantai Timur India, dan Raja Chola, menghadiahkan hasil pajak tahunannya sebuah tempat bagi para saudagar Sriwijaya untuk singgah, berdiam dan memuja. Hal ini menunjukkan pada waktu itu sudah intensif hubungan dagang antara Sriwijaya dengan India. Pada era bersamaa ada sebuah catatan China yang mengatakan bahwa pada masa itu hidup Seorang reformis Agama Budha di Tibet bernama Atisa yang mengatakan telah belajar di Sriwijaya dari tahun 1011 sampai dengan 1023 pada seorang mahaguru Dharmakirti namanya, seorang kepala kuil Budaha di Sumatra. Dalam biografi Atisa disebutkan Sumatra merupakan pusat terbesar agama Budha dan Dharmakirti sarjana terbesar pada masa itu.

Catatan :

  • Dalam catatan arab nama Kerajaan Sriwijaya dikenal dengan Kerajaan Zabag karena bandar utamanya berada di Muara Sabak di Sungai Batanghari
  • Dalam catatan China nama Sriwijaya dikenal dengan Che-Li-Fo-Che dan pusat kerajaannya di Pa-Len-Fong (Palembang)
  • Universitas tertua di Dunia adalah Academia (Universita yang didirikan oleh Filsuf Yunani bernama Plato) dan kemudian Leichon/ Liceum (Universitas yang didirikan Aristoteles, murid Plato yang paling cemerlang) keduanya pada abad ke III SM baru kemudian disusul oleh Universitas Nalanda yang mengajarkan teologi agama Budha pada abad ke V M.
  • Pada jaman kuno Universitas tertua yang tercatat adalah Universitas di Yunani, Universitas Nalanda India, kemudian Universitas Gundisapur di Iran dan Universitas Alexandria di Mesir, Universitas Maroko baru setelah renaisance di Eropa ada Universitas Bologna, Universitas Pisa di Italia, Universitas de Paris di Perancis dan Universitas Oxford, Universitas Cambridge, di Inggris, Jerman dan Amerika baru menyusul kemudian.

(dari seorang kawan: M Yusron, milis Sekar DPD-CO)

Pidato yang merupakan pernyataan pertama Abu Bakr As-Siddiq ketika memangku jabatan sebagai Khalifah:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah, Abu Bakr radiallahu ‘anhu berkata:”Kemudian, Saudara-saudara. Saya sudah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya – insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil – insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasulullah maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah shalat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian.”

(Sumber: Muhammad Husain Haekal, “Abu Bakr As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggalan Nabi”, Litera AntarNusa, Cetakan ketujuh, Januari 2007)

Di suatu malam, seorang ibu bermimpi, ia bertemu dengan seseorang yang berkata: “Hai ibu, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa.” Ternyata, pada pagi harinya, sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya. Anak tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Bardizbah, yang kelak menjadi seorang perawi hadits terkenal, Imam Bukhari yang buta saat masih anak-anak.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Keunggulan dan kejeniusan Imam Bukhari sudah tampak sejak masih kecil. Allah menganugrahkan kepadanya hati yang bersih dan otak yang cerdas, pikiran yang tajam, dan daya hafalan yang sangat kuat, khususnya dalam menghafal hadis. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadis. Rasyid ibn Ismail, kakak Imam Bukhari, menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendikiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia pun dicela karena tidak mencatat. Namun, suatu hari, Bukhari meminta teman-temannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Tahun 210 , Bukhari berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji dan menetap di Mekkah serta sesekali ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya, dan menyusun dasar-dasar kitab Al Jami’ As Sahih. Ia juga menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi Muhammad saw. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As Sagir, Al Awsat, dan Al Kabir, lahir dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya memberikan kritik.

Karya-karyanya itu tidak lepas dari pengembaraannya ke banyak negeri: Syam, Mesir, Baghdad, Kuffah, dan Jazirah Arab. Berkat kejeniusannya itu, Imam Bukhari berhasil merawi hadits dari 80.000 perawi, dan menghafalnya rinci dengan sumbernya. Imam Muslim bin Al Hajjaj, pengarang kitab As Sahih Muslim menceritakan: ”Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli berkata: ”Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”

Sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat, sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat kepada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat mengenai hukum.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ash-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab tersebut. Suatu malam, imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah, seolah-olah Nabi berdiri di hadapannya. Dalam penyusunan kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata: ”Saya susun kitab Al-Jami ’ash Shahih ini di Masjidil Haram, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih.”

Setelah itu, ia menulis mukadimah dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab itu dilakukan di kedua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan bersungguh-sungguh Imam Bukhari meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan kesahihan hadits yang diriwayatkan. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits. ”Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang shahih,” katanya suatu saat.

Suatu ketika, penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkhand, ia singgah dulu karena terdapat beberap familinya di desa tersebut. Di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum ia meninggal, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. (Sumber: Nebula No. 01/Thn IV/ Desember 2007)

Makam Imam Bukhari di Samarkand, sekarang dikenal Uzbekistan


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 272,822 hits