Visi Pramudia

Posts Tagged ‘muslim

Di suatu malam, seorang ibu bermimpi, ia bertemu dengan seseorang yang berkata: “Hai ibu, sesungguhnya Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putramu karena seringnya engkau berdoa.” Ternyata, pada pagi harinya, sang ibu menyaksikan bahwa Allah telah mengembalikan penglihatan kedua mata putranya. Anak tersebut adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Bardizbah, yang kelak menjadi seorang perawi hadits terkenal, Imam Bukhari yang buta saat masih anak-anak.

Imam Bukhari lahir di Bukhara pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Keunggulan dan kejeniusan Imam Bukhari sudah tampak sejak masih kecil. Allah menganugrahkan kepadanya hati yang bersih dan otak yang cerdas, pikiran yang tajam, dan daya hafalan yang sangat kuat, khususnya dalam menghafal hadis. Ketika berusia 10 tahun, ia sudah banyak menghafal hadis. Rasyid ibn Ismail, kakak Imam Bukhari, menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendikiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia pun dicela karena tidak mencatat. Namun, suatu hari, Bukhari meminta teman-temannya membawa catatan mereka. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Tahun 210 , Bukhari berangkat ke Baitullah untuk menunaikan haji dan menetap di Mekkah serta sesekali ke Madinah. Di kedua tanah suci itulah ia menulis sebagian karya-karyanya, dan menyusun dasar-dasar kitab Al Jami’ As Sahih. Ia juga menulis Tarikh Kabir-nya di dekat makam Nabi Muhammad saw. Sementara itu ketiga buku tarikhnya, As Sagir, Al Awsat, dan Al Kabir, lahir dari kemampuannya yang tinggi mengenai pengetahuan terhadap tokoh-tokoh dan kepandaiannya memberikan kritik.

Karya-karyanya itu tidak lepas dari pengembaraannya ke banyak negeri: Syam, Mesir, Baghdad, Kuffah, dan Jazirah Arab. Berkat kejeniusannya itu, Imam Bukhari berhasil merawi hadits dari 80.000 perawi, dan menghafalnya rinci dengan sumbernya. Imam Muslim bin Al Hajjaj, pengarang kitab As Sahih Muslim menceritakan: ”Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli berkata: ”Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”

Sebagai intelektual yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat, sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat kepada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat mengenai hukum.

Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ash-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab tersebut. Suatu malam, imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah, seolah-olah Nabi berdiri di hadapannya. Dalam penyusunan kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata: ”Saya susun kitab Al-Jami ’ash Shahih ini di Masjidil Haram, dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih.”

Setelah itu, ia menulis mukadimah dan pokok-pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab itu dilakukan di kedua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Dengan bersungguh-sungguh Imam Bukhari meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan kesahihan hadits yang diriwayatkan. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits. ”Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadis-hadis yang shahih,” katanya suatu saat.

Suatu ketika, penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkhand, ia singgah dulu karena terdapat beberap familinya di desa tersebut. Di desa itu Imam Bukhari jatuh sakit hingga menemui ajalnya. Ia wafat pada malam Idul Fitri tahun 256 H (31 Agustus 870 M), dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Sebelum ia meninggal, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. (Sumber: Nebula No. 01/Thn IV/ Desember 2007)

Makam Imam Bukhari di Samarkand, sekarang dikenal Uzbekistan

Pasti sudah banyak sudah mendengar namanya, karena Imam an-Nawawi sangat terkenal dengan bukunya Riyadhus Shalihin. Nama lengkapnya adalah Syekh Imam ‘Allaamah (ulama besar) Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syaraf bin Murry bin Hasan bin Husain bin Hizam bin Muhammad bin Jum’ah an-Nawawi asy-Syafi’i. Beliau adalah Syaikhul Islaam (Guru besar Islam), penyeru kepada jalan orang-orang yang menempuh jalan Allah. Beliau juga dikenal sebagai tokoh penting yang menulis mazhab (Syafi-i), sekaligus merevisi dan menyusunnya.

Imam an-Nawawi rahimahumullah, lahir pada tanggal 10 Muharram 631 H di Nawa (sebuah desa di wilayah Syam, tepatnya bagian dari kawasan Damaskus). Beliau pindah ke kota Damaskus pada tahun 649 H dan diangkat sebagai pengajar di Darul Hadits al-Asyrafiyyah pada tahun 665 H. Beliau melaksanakan ibadah haji dua kali.

Di pengunjung usianya, beliau pernah pulang ke kampung halamannya dan sempat berkunjung ke kota Quds dan al-Khalil, kemudian kembali ke kampung halamannya dan langsung jatuh sakit saat berkumpul bersama kedua orang tuanya. Imam an-Nawawi meninggal pada malam Rabu, 6 Rajab 676 H dan dimakamkan di kampong halamannya sendiri.

Masa Pertumbuhan

Imam an-Nawawi dibesarkan di desa kelahirannya. Ayahnya adalah penduduk pribumi dan menetap di sana. Di desanya itulah Imam an-Nawawi belajar Al-Qur-an dan berguru kepada beberapa ulama. Beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu. Pada perkembangannya, beliau diangkat sebagai staf pengajar di Darul Hadits al-Asyrafiyyah di kota Damaskus. Uniknya, beliau tidak pernah mengambil gaji dari pekerjaannya itu sampai meninggal.

Imam an-Nawawi menyelesaikan pelajaran dari kitab at-Tanbiih selama empat setengah bulan dan berhasil menghafal seperempat isi kitab al-Muhadzdzab pada tujuh setengah bulan. Selama hampir dua tahun, beliau tidak pernah berbaring (tidur terbaring). Dalam sehari semalam, beliau mempelajari 12 pelajaran dari berbagai disiplin ilmu dengan beberapa guru.

Keistimewaan Imam an-Nawawi

Sejak kecil, Imam an-Nawawi tidak suka bermain, melainkan menghabiskan waktunya untuk belajar Al-Qur’an dengan serius. Beliau khatam Al-Qur’an saat baru akan menginjak usia balig.

Selain itu, beliau dikenal kuat dalam mengamalkan ilmu dan hidup zuhud, dan sangat sabar menjalani kehidupan yang serba kekurangan. Beliau juga jarang tidur malam, rajin beribadah dan menulis. Imam an-Nawawi konsisten dalam mengerjakan al-Amr bil ma’ruf wan nahy ’anil munkar (menyeru kepada kebenaran dan mencegah kemungkaran) baik kepada para raja maupun bawahannya. Sementara dalam berdialog dengan para ulama, beliau melakukannya dengan tenang dan teduh. Singkatnya, setiap waktu dilalui oleh Imam an-Nawawi tidak lepas dari ketaatan dan ibadah kepada Allah swt.

Karya

Imam an-Nawawi menulis sejumlah buku. Adapun buku yang berhasil dirampungkannya adalah:

  • Ar-Raudah (Raudhatuh Thaalibiin)
  • Al-Minhaaj
  • Daqaa’iqul Minhaaj
  • Al-Manaasik ash-Sughraa
  • Al-Manaasikul Kubraa
  • At-Tibyaan
  • Tashhiihut-Tanbiih
  • Nukat ’alat-Tanbiih
  • Al-Fataawaa
  • Syarh Muslim
  • Al-Adzkaar
  • Riyaadush-Shaalihiin
  • Al-Arba’uun Haditsan
  • Thabaqaatul Fuqahaa’
  • Tahdziibul Asmaa’ wal Lughaat
  • Tashniif fil Istisqaa’ wa fii Istihbaabil Qiyaam wa Nahwiha
  • Qismatul Ghanaa’im

Ada juga beberapa karya Imam an-Nawawi yang tidak sempat dirampungkan:

  • Syarhul Muhadzdzab (sampai kepada pembahasan masalah Rabaa’)
  • At-Tahqiiq (sampai kepada pembahasan shalat musafir)
  • Tuhfatut Thaalib an-Nabiih (sampai kepada pembahasan shalat)
  • Al-Isyaaraat ilaa maa waqa’a fir Raudhah minal Asmaa’ wal Ma’aanii wal Lighaat (sampai kepada pembahasan masalah shalat)

(Sumber: Terjemahan Riyadhush Shalihin Jilid 1, Imam an-Nawawi dan Abu Zakariya Yahya bin Syaraf, Tahqiq: Muhyiddin al-Jarrah, 2005)

Makam Imam Nawawi

 
Setiap bangsa memiliki falsafahnya sendiri tentang waktu. Bangsa Arab misalnya, mempunyai falsafah “al waqtu kash shoif” (waktu ibarat pedang). Maksudnya, kalau kita pandai menggunakan pedang, maka pedang itu akan menjadi alat yang bermanfaat. Tapi kalau tidak bisa menggunakannya, maka bisa-bisa kita sendiri akan celaka. Begitu juga dengan waktu, kalau kita pandai memanfaatkannya maka kita akan menjadi orang yang sukses. Tapi kalau tidak, maka kita sendiri yang akan tergilas oleh waktu.
 
Sementara orang barat, mempunyai falsafah: “time is money”, waktu adalah uang. Faham ini sangat materialisme. Kesuksesan, kesenangan, kebahagiaan, kehormatan, semuanya diukur dengan materi. Maka mereka akan merasa rugi jika ada sedikit saja waktu yang berlalu tanpa menghasilkan uang. Uang menjadi tujuan hidupnya.
 
Waktu menurut Al-Qur’an
 
Kalau kita simak, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang diawali dengan menggunakan kata ‘waktu’. Misalnya wadh dhuha (demi waktu dhuha), wal fajri (demi waktu fajar), wal laili (demi waktu malam), dan masih banyak lagi. Dalam ayat-ayat tersebut Allah bersumpah dengan menggunakan kata waktu. Menurut para ahli tafsir, dengan menggunakan kata waktu ketika bersumpah, Allah swt., ingin menegaskan bahwa manusia hendaknya benar-benar memperhatikan waktu, karena sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia.
 
Dalam surat al-‘Ashr, Allah swt. berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3).
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa, pada dasarnya semua manusia itu berpotensi menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu siapakah manusia yang beruntung? Ternyata menurut Al-Qur’an, manusia yang beruntung itu bukanlah yang pangkatnya tinggi atau yang uangnya banyak. Tapi yang beruntung adalah mereka yang beriman, beramal shaleh, dan yang suka menasehati dalam kebenaran dan selalu bersabar.
 
Waktu adalah ibadah
 
Merujuk surat Al-‘Ashr tersebut, maka konsep waktu menurut Islam adalah: Iman, beramal shaleh, senantiasa menasehati berbuat kebenaran dan bersikap sabar. Keempat kata kunci, yaitu iman, amal shaleh, kebenaran dan kesabaran, kalau boleh kita rangkum dalam satu kata dapat bermakna ‘ibadah’. Jadi konsep waktu menurut Al-Qur’an bermakna ibadah. Hal ini sejalan dengan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri, yakni: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”.
 
Yang dimaksud dengan ibadah bukan sekedar shalat, puasa, zakat, ataupun haji saja. Melainkan ibadah dalam pengertian luas, yaitu mencangkup seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, hingga bangun tidur kembali, semuanya harus diisi dengan ibadah kepada Allah swt. Ini sesuai pula dengan komitmen kita yang selalu diucapkan ketika kita melaksanakan shalat: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala.”
 
Menurut para ulama, semua perbuatan baik, apabila dilandasi dengan keimanan, serta diniatkan hanya untuk mencari ridho Allah swt, maka itu akan bernilai ibadah. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ibadah adalah nama yang mencangkup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah swt, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.”
 
Maka seorang manusia yang beriman dapat menjadikan pekerjaan dan segala aktifitasnya itu bernilai ibadah apabila didasarkan pada ketentuan-ketentuan syari’at. Dalam hal ini Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 94)
 
Jangan Sia-siakan Waktu
 
Oleh karena waktu merupakan hal yang sangat penting dan amat berharga dalam kehidupan manusia, maka janganlah kita menyia-nyiakan waktu jika tidak ingin menjadi orang yang merugi. Sebagai orang beriman, hendaknya kita isi waktu dengan senantiasa beribadah kepada Allah. Janganlah membuang-buang waktu, karena sekali waktu berlalu, dia tidak akan pernah kembali lagi.
 
Ingatlah pesan Nabi Muhammad saw: “Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang musafir atau bahkan seperti seorang pengembara. Apabila engkau telah memasuki waktu sore, janganlah menanti datangnya waktu pagi. Dan apabila engkau telah memasuki waktu pagi, janganlah menanti datangnya waktu sore. Ambillah waktu sehatmu (untuk bekal) waktu sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.” (H.R. Bukhari).
 
Hadits tersebut mengingatkan kita agar kita selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Seperti halnya seorang pengembara, hendaknya selalu menyiapkan perbekalan.
Selain itu, Hadits ini juga mengingatkan kita agar selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan suka menunda-nunda waktu. Kalau kita ingin berbuat baik, lakukan sesegera mungkin. Jangan menunggu esok hari. Mumpung lagi sehat, berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, sebab kalau sudah sakit, kita sulit untuk melakukan sesuatu. Apalagi kalau sudah meninggal, tertutup sudah kesempatan untuk beramal shaleh di dunia.
 
(sumber: Konsep Waktu Menurut Al-Qur’an, An-Nahl, edisi No. 295/Tahun VI, Shafar 1429 H)
Mengenai Waktu ini, ada lagunya dari Raihan, coba lihat di posting saya tentang Demi Masa
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun [107]:1-3)
 
Berdasarkan Hadits Nabi, siapa sih yang termasuk dalam golongan orang miskin?
 
Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis yang artinya sebagai berikut:
 
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, ”Orang miskin bukanlah orang yang ditolak karena meminta sebutir atau dua butir korma, bukan pula ditolak karena meminta satu atau dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.” (Muttafaq ’alaih)
 
Dalam sebuah riwayat dalam ash-Shahiihain dinyatakan, ”Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu ditolak untuk mendapat satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir korma. Tetapi, orang miskin adalah yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaannya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya dan tidak pula pergi meminta-minta kepada manusia.”
 
Adapun amalannya bagi kita yang menyantuni orang miskin adalah sebagai berikut:
 
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, ”Orang yang menyantuni kaum janda dan orang-orang miskin adalah setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah.” Aku mengira, Rasulullah saw. Juga bersabda, ”Dia juga seperti orang yang bertahajjud yang tidak merasa lelah dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (Muttafaq ’alaih)
 
Berikut ini adalah kisah keluarga Rizal Syam yang serba kekurangan bahkan tidak mendapatkan air bersih dan listrik sebagai kebutuhan hidup yang vital saat ini. Kisah ini saya ambil dari ”Making the new Indonesia Work for Poor” dari The World Bank, November 2006:
 
Rizal Syam dan keluarga tinggal di Tanjung Priok, Jakarta. Rizal Syam berhenti bekerja pada umur 55 tahun setelah 22 tahun bekerja di Pelabuhan Tanjung Priok. Setelah berhenti bekerja, situasi sulit mulai terasa, apalagi setelah istrinya, Nur Asmawati, di-PHK dari pabrik pada tahun 2000. Uang hasil bekerja Rizal Syam juga habis setelah merenovasi rumah orang tua mereka. Mereka berusaha mendapatkan nafkah dari penjualan nasi uduk, namun usaha tersebut tidak kunjung menghasilkan keuntungan, sehingga setelah satu tahun akhirnya mereka menjadi pengangguran lagi. Akhirnya Rizal bekerja untuk kebershian RT, mengumpulkan sampah dan membersihkan got di lingkungan RTnya dengan pendapatan Rp. 200 ribu per bulan. Sedangkan istrinya bekerja sebagai pengasuh anak (baby sitter) dengan pendapatan Rp. 200 ribu per bulan.
 

Rizal Syam bekerja sebagai pemulung sampah

 
Kemudian keluarga Rizal Syam harus hidup tanpa air bersih dan listrik, karena tidak sanggup membayar tunggakan PAM dan PLN. Hati dan mata Rizal serasa ingin menangis, karena merasa bahwa pemerintah tidak memperhatikan kebutuhan bagi masyarakat miskin seperti dia, sampai tidak dapat mendapatkan air bersih dan listrik. Namun Rizal tidak pernah meminta-minta, namun selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Nur Asmawati sedang memandikan anak di belakang rumah, sebagai satu-satunya tempat untuk mandi

 
Keluarga yang seperti ini yang sebaiknya kita santuni, dan mungkin saja di sekeliling kita (tetangga) masih ada keluarga miskin yang kebutuhannya tidak tercukupi, namun karena tidak meminta-minta maka kita tidak mengetahuinya. Mari kita menyantuni mereka, dan semoga Allah menyetarakan kita dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, Amien.

Selasa, 4 Maret 2008, akhirnya rencana untuk melaksanakan perayaan Ulang Tahun anak-anak kami di Panti Balita Tunas Bangsa terlaksana juga. Hal ini merupakan pengalaman pertama kami, ulang tahun Key (lima tahun) & Jesse (satu tahun) kami gabungkan saja, karena waktunya juga memang berdekatan. Tahun ini kami memilih panti Balita Tunas Bangsa di Cipayung, karena memang salah satu tujuan kami adalah untuk sekalian menyantuni anak yatim, karena memang sebagian dari mereka adalah anak yatim.

Kami ingat hadits nabi sebagai berikut:

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Kedudukanku di surga bersama orang yang mengasuh anak yatim adalah seperti ini.” Beliau memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya, dan merenggangkannya. (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Pengasuh anak yatim, baik keluarganya maupun dari keluarga lain, antara aku dan dia di surga adalah seperti ini.” Perawi (Anas bin Malik) memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengah. (HR. Muslim)

Ini foto-foto yang sempat kami abadikan:

Anak-anak Panti Balita Tunas Bangsa bernyanyi bersama

Eyang-eyang kami yang sibuk menggendong anak-anak panti

Key (paling ujung sebelah kiri) dan anak-anak panti berlomba tiup balon.

Eyang Papap membacakan do’a


Key & Jesse meniup lilin Ulang Tahun

Wah… ternyata bermacam-macam sekali tingkah laku mereka, ada yang ‘nakal’, ada yang pengen digendong, ada yang aktif dan sebagainya. Tapi mereka semua tetap ceria. Pada umumnya mereka memang haus akan kasih sayang orang tua.

Mari kita bersyukur kepada Allah, bahwa kita mendapatkan bimbingan orang tua yang sejak kecil mencintai kita. Dan mari kita mendoakan agar kita senantiasa termasuk dalam orang yang peduli terhadap anak-anak tersebut, yang merupakan tunas bangsa.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam orang yang menyantuni anak yatim, pengasuh anak yatim, sehingga kelak kami dapat bersama-sama dengan Nabi Muhammad saw. di Surga. Dan senantiasa limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw beserta dengan para keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang selalu dicintainya. Amin.”

Pada hari kesembilan Zulhijjah, Nabi Muhammad SAW berada di Mina. Setelah selesai shalat subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’, beliau menuju ke gunung Arafat. Arus manusia dari belakang mengikutinya. Ribuan kaum Muslimin saling mengucapkan talbiah dan bertakbir. Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka. Sampai matahari tergelincir, di desa Namira, manusia dipanggilnya, sambil beliau masih di atas unta, dengan suara lantang (tapi sungguhpun begitu masih diulang oleh Rabi’a bin Umayya bin Khalaf). Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah, dengan berhenti pada setiap kalimat beliau berkata:

“Wahai manusia! Perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.
“Wahai manusia! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci – sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!
“Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.
“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba ‘Abbas b. Abd’l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.
“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah ibn Rabi’a bin’l-Harith b. ‘Abd’l-Muttalib!
“Kemudian daripada itu wahai manusia! Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walaupun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu, peliharalah agamamu ini baik-baik.
“Wahai manusia! Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.
”Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadil akhir dan Sya’ban.
”Kemudian daripada itu, wahai manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu, Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pululan yang tidak sampai mengganggu. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap istri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.
“Perhatikanlah kata-kataku ini, wahai manusia. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
“Wahai manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.
“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”
Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya!”
Lalu katanya:
”Ya Allah, saksikanlah ini!”

Selesai Nabi mengucapkan pidato, beliau turun dari al-Qahwa’. Beliau masih di tempat itu juga sampai pada waktu sembahyang lohor dan ashar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakarat. Pada waktu itulah, Nabi Muhammad SAW membacakan firman Tuhan ini kepada mereka:
“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini dan kamu sekalian, dengan Kucukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Q.S. 5:3)

Abu Bakr ketika mendengar ayat itu dibaca ia menangis. Ia merasa bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan…

(dikutip dari “Sejarah Hidup Muhammad” karangan Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan oleh Ali Audah, cetakan ke 27)

Disinilah Nabi menyampaikan Kuthbah terakhir, yang sekarang didirikan Mesjid Namira


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

RSS Orido

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 292.044 hits