Visi Pramudia

Posts Tagged ‘pidato

Pidato yang merupakan pernyataan pertama Abu Bakr As-Siddiq ketika memangku jabatan sebagai Khalifah:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah, Abu Bakr radiallahu ‘anhu berkata:”Kemudian, Saudara-saudara. Saya sudah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya – insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil – insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasulullah maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah shalat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian.”

(Sumber: Muhammad Husain Haekal, “Abu Bakr As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggalan Nabi”, Litera AntarNusa, Cetakan ketujuh, Januari 2007)

Iklan
Pada hari kesembilan Zulhijjah, Nabi Muhammad SAW berada di Mina. Setelah selesai shalat subuh, dengan menunggang untanya al-Qashwa’, beliau menuju ke gunung Arafat. Arus manusia dari belakang mengikutinya. Ribuan kaum Muslimin saling mengucapkan talbiah dan bertakbir. Nabi mendengarkan dan membiarkan mereka. Sampai matahari tergelincir, di desa Namira, manusia dipanggilnya, sambil beliau masih di atas unta, dengan suara lantang (tapi sungguhpun begitu masih diulang oleh Rabi’a bin Umayya bin Khalaf). Setelah mengucapkan syukur dan puji kepada Allah, dengan berhenti pada setiap kalimat beliau berkata:

“Wahai manusia! Perhatikanlah kata-kataku ini! Aku tidak tahu, kalau-kalau sesudah tahun ini, dalam keadaan seperti ini, tidak lagi aku akan bertemu dengan kamu sekalian.
“Wahai manusia! Bahwasanya darah kamu dan harta-benda kamu sekalian adalah suci buat kamu, seperti hari ini dan bulan ini yang suci – sampai datang masanya kamu sekalian menghadap Tuhan. Dan pasti kamu akan menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatanmu. Ya, aku sudah menyampaikan ini!
“Barangsiapa telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.
“Bahwa semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Janganlah kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak boleh lagi ada riba dan bahwa riba ‘Abbas b. Abd’l-Muttalib semua sudah tidak berlaku.
“Bahwa semua tuntutan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah ibn Rabi’a bin’l-Harith b. ‘Abd’l-Muttalib!
“Kemudian daripada itu wahai manusia! Hari ini nafsu setan yang minta disembah di negeri ini sudah putus buat selama-lamanya. Tetapi, kalau kamu turutkan dia walaupun dalam hal yang kamu anggap kecil, yang berarti merendahkan segala amal perbuatanmu, niscaya akan senanglah dia. Oleh karena itu, peliharalah agamamu ini baik-baik.
“Wahai manusia! Menunda-nunda berlakunya larangan bulan suci berarti memperbesar kekufuran. Dengan itu orang-orang kafir itu tersesat. Pada satu tahun mereka langgar dan pada tahun lain mereka sucikan, mereka menghalalkan apa yang sudah diharamkan Allah dan mengharamkan mana yang sudah dihalalkan.
”Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada dua belas bulan, empat bulan di antaranya ialah bulan suci, tiga bulan berturut-turut dan bulan Rajab itu antara bulan Jumadil akhir dan Sya’ban.
”Kemudian daripada itu, wahai manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, juga istrimu sama mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengijinkan orang yang tidak kamu sukai menginjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai mereka secara jelas membawa perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu, Tuhan mengijinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pululan yang tidak sampai mengganggu. Bila mereka sudah tidak lagi melakukan itu, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan sopan-santun. Berlaku baiklah terhadap istri kamu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan mereka dihalalkan buat kamu dengan nama Tuhan.
“Perhatikanlah kata-kataku ini, wahai manusia. Aku sudah menyampaikan ini. Ada masalah yang sudah jelas kutinggalkan di tangan kamu, yang jika kamu pegang teguh, kamu takkan sesat selama-lamanya: Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
“Wahai manusia sekalian! Dengarkan kata-kataku ini dan perhatikan! Kamu akan mengerti, bahwa setiap Muslim adalah saudara Muslim yang lain, dan kaum Muslimin semua bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri.
“Ya Allah! Sudahkah kusampaikan?”
Maka serentak dari segenap penjuru orang menjawab: “Ya!”
Lalu katanya:
”Ya Allah, saksikanlah ini!”

Selesai Nabi mengucapkan pidato, beliau turun dari al-Qahwa’. Beliau masih di tempat itu juga sampai pada waktu sembahyang lohor dan ashar. Kemudian menaiki kembali untanya menuju Shakarat. Pada waktu itulah, Nabi Muhammad SAW membacakan firman Tuhan ini kepada mereka:
“Hari inilah Kusempurnakan agamamu ini dan kamu sekalian, dengan Kucukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan yang Kusukai Islam inilah menjadi agama kamu.” (Q.S. 5:3)

Abu Bakr ketika mendengar ayat itu dibaca ia menangis. Ia merasa bahwa risalah Nabi sudah selesai dan sudah dekat pula saatnya Nabi hendak menghadap Tuhan…

(dikutip dari “Sejarah Hidup Muhammad” karangan Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan oleh Ali Audah, cetakan ke 27)

Disinilah Nabi menyampaikan Kuthbah terakhir, yang sekarang didirikan Mesjid Namira


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

RSS Orido

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 289.334 hits
Iklan