Visi Pramudia

Posts Tagged ‘Religi

Sekali lagi… Selamat Idul Fitri…

Semoga Allah menghapuskan dosa-dosa dan kesalahan kita, kembali kepada fitrah manusia yang suci, … seperti tatapan mata Jesse yang bening itu..

Mari kita pererat tali silaturahmi…

Barangsiapa yang senang jika dilapangkan rizkinya atau diakhirkan ajalnya,

hendaknya ia menyambung tali silaturahmi (HR. Muslim dan HR Bukhari).

 

Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling

memohon dan peliharalah silaturahim(QS. An-Nisa 1).

 

Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara , maka damaikanlah pertentangan

di antara kamu dan bertaqwalah kepada Allah.” (QS. Al-Hujurat 10)

Al-Jazari (1136-1206) mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Al-Jazari adalah seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir di al-Jazira, yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur laut Syria, tepatnya antara sungai Tigris dan Efrat. Ibnu Ismail Ibnu al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang ini, diantaranya sistem combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi.

Donald Routledge Hill dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga jaman modern ini, tidak satupun tulisan dari suatu kebudayaan yang dapat memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh al-Jazari. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, ”al-Jami Bain al-Ilm Wal-’Amal al Nafi Fi Sinat’at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices).

Pada tahun 1206, al-Jazari membuat Jam Gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot pada masa sekarang. Kini replika Jam Gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.

”Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Mahak Perkasa.” (QS Al Hadid: 25)

Replika Jam Gajah yang digerakkan oleh tenaga air, berbunyi setiap 30 menit.

(diambil dari: Kalender Takaful 1429H)

Pidato yang merupakan pernyataan pertama Abu Bakr As-Siddiq ketika memangku jabatan sebagai Khalifah:

Setelah mengucapkan puji syukur kepada Allah, Abu Bakr radiallahu ‘anhu berkata:”Kemudian, Saudara-saudara. Saya sudah terpilih untuk memimpin kamu sekalian, dan saya bukanlah orang yang terbaik di antara kamu sekalian. Kalau saya berlaku baik, bantulah saya. Kebenaran adalah suatu kepercayaan, dan dusta adalah pengkhianatan. Orang yang lemah di kalangan kamu adalah kuat di mata saya, sesudah haknya saya berikan kepadanya – insya Allah, dan orang yang kuat buat saya adalah lemah sesudah haknya nanti saya ambil – insya Allah. Apabila ada golongan yang meninggalkan perjuangan di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada mereka. Apabila kejahatan itu sudah meluas pada suatu golongan, maka Allah akan menyebarkan bencana kepada mereka. Taatilah saya selama saya taat kepada (perintah) Allah dan Rasul-Nya. Tetapi apabila saya melanggar (perintah) Allah dan Rasulullah maka gugurlah kesetiaanmu kepada saya. Laksanakanlah shalat kamu, Allah akan merahmati kamu sekalian.”

(Sumber: Muhammad Husain Haekal, “Abu Bakr As-Siddiq: Sebuah Biografi dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggalan Nabi”, Litera AntarNusa, Cetakan ketujuh, Januari 2007)

 
Setiap bangsa memiliki falsafahnya sendiri tentang waktu. Bangsa Arab misalnya, mempunyai falsafah “al waqtu kash shoif” (waktu ibarat pedang). Maksudnya, kalau kita pandai menggunakan pedang, maka pedang itu akan menjadi alat yang bermanfaat. Tapi kalau tidak bisa menggunakannya, maka bisa-bisa kita sendiri akan celaka. Begitu juga dengan waktu, kalau kita pandai memanfaatkannya maka kita akan menjadi orang yang sukses. Tapi kalau tidak, maka kita sendiri yang akan tergilas oleh waktu.
 
Sementara orang barat, mempunyai falsafah: “time is money”, waktu adalah uang. Faham ini sangat materialisme. Kesuksesan, kesenangan, kebahagiaan, kehormatan, semuanya diukur dengan materi. Maka mereka akan merasa rugi jika ada sedikit saja waktu yang berlalu tanpa menghasilkan uang. Uang menjadi tujuan hidupnya.
 
Waktu menurut Al-Qur’an
 
Kalau kita simak, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang diawali dengan menggunakan kata ‘waktu’. Misalnya wadh dhuha (demi waktu dhuha), wal fajri (demi waktu fajar), wal laili (demi waktu malam), dan masih banyak lagi. Dalam ayat-ayat tersebut Allah bersumpah dengan menggunakan kata waktu. Menurut para ahli tafsir, dengan menggunakan kata waktu ketika bersumpah, Allah swt., ingin menegaskan bahwa manusia hendaknya benar-benar memperhatikan waktu, karena sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia.
 
Dalam surat al-‘Ashr, Allah swt. berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3).
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa, pada dasarnya semua manusia itu berpotensi menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu siapakah manusia yang beruntung? Ternyata menurut Al-Qur’an, manusia yang beruntung itu bukanlah yang pangkatnya tinggi atau yang uangnya banyak. Tapi yang beruntung adalah mereka yang beriman, beramal shaleh, dan yang suka menasehati dalam kebenaran dan selalu bersabar.
 
Waktu adalah ibadah
 
Merujuk surat Al-‘Ashr tersebut, maka konsep waktu menurut Islam adalah: Iman, beramal shaleh, senantiasa menasehati berbuat kebenaran dan bersikap sabar. Keempat kata kunci, yaitu iman, amal shaleh, kebenaran dan kesabaran, kalau boleh kita rangkum dalam satu kata dapat bermakna ‘ibadah’. Jadi konsep waktu menurut Al-Qur’an bermakna ibadah. Hal ini sejalan dengan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri, yakni: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”.
 
Yang dimaksud dengan ibadah bukan sekedar shalat, puasa, zakat, ataupun haji saja. Melainkan ibadah dalam pengertian luas, yaitu mencangkup seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, hingga bangun tidur kembali, semuanya harus diisi dengan ibadah kepada Allah swt. Ini sesuai pula dengan komitmen kita yang selalu diucapkan ketika kita melaksanakan shalat: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala.”
 
Menurut para ulama, semua perbuatan baik, apabila dilandasi dengan keimanan, serta diniatkan hanya untuk mencari ridho Allah swt, maka itu akan bernilai ibadah. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ibadah adalah nama yang mencangkup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah swt, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.”
 
Maka seorang manusia yang beriman dapat menjadikan pekerjaan dan segala aktifitasnya itu bernilai ibadah apabila didasarkan pada ketentuan-ketentuan syari’at. Dalam hal ini Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 94)
 
Jangan Sia-siakan Waktu
 
Oleh karena waktu merupakan hal yang sangat penting dan amat berharga dalam kehidupan manusia, maka janganlah kita menyia-nyiakan waktu jika tidak ingin menjadi orang yang merugi. Sebagai orang beriman, hendaknya kita isi waktu dengan senantiasa beribadah kepada Allah. Janganlah membuang-buang waktu, karena sekali waktu berlalu, dia tidak akan pernah kembali lagi.
 
Ingatlah pesan Nabi Muhammad saw: “Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang musafir atau bahkan seperti seorang pengembara. Apabila engkau telah memasuki waktu sore, janganlah menanti datangnya waktu pagi. Dan apabila engkau telah memasuki waktu pagi, janganlah menanti datangnya waktu sore. Ambillah waktu sehatmu (untuk bekal) waktu sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.” (H.R. Bukhari).
 
Hadits tersebut mengingatkan kita agar kita selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Seperti halnya seorang pengembara, hendaknya selalu menyiapkan perbekalan.
Selain itu, Hadits ini juga mengingatkan kita agar selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan suka menunda-nunda waktu. Kalau kita ingin berbuat baik, lakukan sesegera mungkin. Jangan menunggu esok hari. Mumpung lagi sehat, berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, sebab kalau sudah sakit, kita sulit untuk melakukan sesuatu. Apalagi kalau sudah meninggal, tertutup sudah kesempatan untuk beramal shaleh di dunia.
 
(sumber: Konsep Waktu Menurut Al-Qur’an, An-Nahl, edisi No. 295/Tahun VI, Shafar 1429 H)
Mengenai Waktu ini, ada lagunya dari Raihan, coba lihat di posting saya tentang Demi Masa
“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Maa’uun [107]:1-3)
 
Berdasarkan Hadits Nabi, siapa sih yang termasuk dalam golongan orang miskin?
 
Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin menulis yang artinya sebagai berikut:
 
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, ”Orang miskin bukanlah orang yang ditolak karena meminta sebutir atau dua butir korma, bukan pula ditolak karena meminta satu atau dua suap makanan. Tetapi, orang miskin adalah orang yang menjaga kehormatan diri dengan tidak meminta-minta.” (Muttafaq ’alaih)
 
Dalam sebuah riwayat dalam ash-Shahiihain dinyatakan, ”Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling (meminta-minta) kepada manusia, lalu ditolak untuk mendapat satu atau dua suap makanan, satu atau dua butir korma. Tetapi, orang miskin adalah yang kebutuhannya tidak tercukupi, keadaannya tidak diketahui sehingga tidak ada yang bersedekah kepadanya dan tidak pula pergi meminta-minta kepada manusia.”
 
Adapun amalannya bagi kita yang menyantuni orang miskin adalah sebagai berikut:
 
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi saw. Bersabda, ”Orang yang menyantuni kaum janda dan orang-orang miskin adalah setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah.” Aku mengira, Rasulullah saw. Juga bersabda, ”Dia juga seperti orang yang bertahajjud yang tidak merasa lelah dan seperti orang yang berpuasa yang tidak pernah berbuka.” (Muttafaq ’alaih)
 
Berikut ini adalah kisah keluarga Rizal Syam yang serba kekurangan bahkan tidak mendapatkan air bersih dan listrik sebagai kebutuhan hidup yang vital saat ini. Kisah ini saya ambil dari ”Making the new Indonesia Work for Poor” dari The World Bank, November 2006:
 
Rizal Syam dan keluarga tinggal di Tanjung Priok, Jakarta. Rizal Syam berhenti bekerja pada umur 55 tahun setelah 22 tahun bekerja di Pelabuhan Tanjung Priok. Setelah berhenti bekerja, situasi sulit mulai terasa, apalagi setelah istrinya, Nur Asmawati, di-PHK dari pabrik pada tahun 2000. Uang hasil bekerja Rizal Syam juga habis setelah merenovasi rumah orang tua mereka. Mereka berusaha mendapatkan nafkah dari penjualan nasi uduk, namun usaha tersebut tidak kunjung menghasilkan keuntungan, sehingga setelah satu tahun akhirnya mereka menjadi pengangguran lagi. Akhirnya Rizal bekerja untuk kebershian RT, mengumpulkan sampah dan membersihkan got di lingkungan RTnya dengan pendapatan Rp. 200 ribu per bulan. Sedangkan istrinya bekerja sebagai pengasuh anak (baby sitter) dengan pendapatan Rp. 200 ribu per bulan.
 

Rizal Syam bekerja sebagai pemulung sampah

 
Kemudian keluarga Rizal Syam harus hidup tanpa air bersih dan listrik, karena tidak sanggup membayar tunggakan PAM dan PLN. Hati dan mata Rizal serasa ingin menangis, karena merasa bahwa pemerintah tidak memperhatikan kebutuhan bagi masyarakat miskin seperti dia, sampai tidak dapat mendapatkan air bersih dan listrik. Namun Rizal tidak pernah meminta-minta, namun selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Nur Asmawati sedang memandikan anak di belakang rumah, sebagai satu-satunya tempat untuk mandi

 
Keluarga yang seperti ini yang sebaiknya kita santuni, dan mungkin saja di sekeliling kita (tetangga) masih ada keluarga miskin yang kebutuhannya tidak tercukupi, namun karena tidak meminta-minta maka kita tidak mengetahuinya. Mari kita menyantuni mereka, dan semoga Allah menyetarakan kita dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, Amien.

Selasa, 4 Maret 2008, akhirnya rencana untuk melaksanakan perayaan Ulang Tahun anak-anak kami di Panti Balita Tunas Bangsa terlaksana juga. Hal ini merupakan pengalaman pertama kami, ulang tahun Key (lima tahun) & Jesse (satu tahun) kami gabungkan saja, karena waktunya juga memang berdekatan. Tahun ini kami memilih panti Balita Tunas Bangsa di Cipayung, karena memang salah satu tujuan kami adalah untuk sekalian menyantuni anak yatim, karena memang sebagian dari mereka adalah anak yatim.

Kami ingat hadits nabi sebagai berikut:

Dari Sahl bin Sa’ad r.a., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Kedudukanku di surga bersama orang yang mengasuh anak yatim adalah seperti ini.” Beliau memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya, dan merenggangkannya. (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Pengasuh anak yatim, baik keluarganya maupun dari keluarga lain, antara aku dan dia di surga adalah seperti ini.” Perawi (Anas bin Malik) memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengah. (HR. Muslim)

Ini foto-foto yang sempat kami abadikan:

Anak-anak Panti Balita Tunas Bangsa bernyanyi bersama

Eyang-eyang kami yang sibuk menggendong anak-anak panti

Key (paling ujung sebelah kiri) dan anak-anak panti berlomba tiup balon.

Eyang Papap membacakan do’a


Key & Jesse meniup lilin Ulang Tahun

Wah… ternyata bermacam-macam sekali tingkah laku mereka, ada yang ‘nakal’, ada yang pengen digendong, ada yang aktif dan sebagainya. Tapi mereka semua tetap ceria. Pada umumnya mereka memang haus akan kasih sayang orang tua.

Mari kita bersyukur kepada Allah, bahwa kita mendapatkan bimbingan orang tua yang sejak kecil mencintai kita. Dan mari kita mendoakan agar kita senantiasa termasuk dalam orang yang peduli terhadap anak-anak tersebut, yang merupakan tunas bangsa.

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk dalam orang yang menyantuni anak yatim, pengasuh anak yatim, sehingga kelak kami dapat bersama-sama dengan Nabi Muhammad saw. di Surga. Dan senantiasa limpahkanlah salawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw beserta dengan para keluarganya, sahabatnya, dan umatnya yang selalu dicintainya. Amin.”


I'm the one with my own vision. Vision to give my wisdom on surrounding society. Especially my lovely wife and 2 kids, my parents and all my family, my all friends at my workplace, home and anywhere you are, ...

Kategori

Indonesians’ Beautiful Sharing Network
Add to Technorati Favorites

Blog Stats

  • 271,646 hits